SITUS LAMURI DI KAWASAN BUKIT LAMREH: “KOTA DAN PELABUHAN KUNO SEBELUM KESULTANAN ACEH”
Tempat ini berlokasi di kawasan perbukitan Lamreh, Gampong (kampung) Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Acek Besar. Lokasi perbukitan tersebut sebenarnya merupakan tanjung perbukitan kapur yang dikenal masyarakat setempat sebagai Ujong Batee Kapal dengan teluk kecil dan Kuala Lubok di sisi Timur, serta teluk Krueng Raya di barat dengan pelabuhan Malahayati.
Dari hasil pengamatan arkeologis, ditempat ini mengandung banyak-benda benda kuno, seperti temuan struktur besar Benteng – Kuta Inong Balee dan Benteng – Kuta Lunok. Benda-benda kuno lainnya berupa struktur susunan batu berteras yang belum banyak diteliti, kelompok-kelompok makam kuno dengan batu nisan yang dipahat sebagai penanda makam. Ditempat ini juga ditemukan benda-benda kecil dari berbagai jenis dan bahan, seperti keramik dan tembikar, benda-benda dari kaca, batu, dan logam (jenis besi, perunggu, dan timah). Benda-benda kecil tersebut cukup berarti untuk memahami situs arkeologis ini, karena benda-benda kecil tersebut biasa ditemukan dalam jaringan pelayaran dan perdagangan jarak jauh.
Masyarakat di Situs Kawasan Bukit Lamreh atau Situs Lamreh sebagai masyarakat kota dan pelabuhan kuno di Aceh. Penelitian arkeologi, walau belum dilakukan ekskavasi arkeologi (penggalian) secara lebih luas, namun dari hasil survey dan observasi permukaan yang dilakukan sejak tahun 2009/2010 hingga 2014 telah membuktikan dengan sangat menyakinkan bahwa tempat ini pernah menjadi tempat tinggal permanen dari satu komunitas masyarakat kota dan sebagai pedagang. Temuan yang berhasil dikumpulkan memberikan gambaran bahwa kehidupan masyarakat kota kuno di situs Lamreh sangat terikat dengan kegiatan pelayaran dan perdagangan jarak jauh. Sebagai suatu masyarakat kota dalam suatu pelabuhan kuno apa saja yang dilakukan masyarakatnya tentu saja untuk menjamin terselenggaranya keberlanjutan suatu kehidupan masyarakat kota dengan kegiatan pelayaran dan perdagangan jarak jauh. Dari bukti yang berhasil dikumpulkan dapat diketahui bahwa masyarakat kota di Situs Lamreh memiliki berbagai keahlian untuk mendukung kehidupan kota dan pelabuhan ini selain sebagai pelaut dan pedagang kususnya dalam pelayaran jarak jauh serta nelayan.
Kehidupan masyarakat kota Situs Lamreh, umumnya sebagai pedagang yang memainkan peranan perdagangan jarak jauh, dibuktikan dengan penemuan artefak berupa benda-benda yang datang dari penjuru dunia. Jenis temuan yang sangat khas dari situs kota dan pelabuhan kuno terutama jenis temuan keramik. Jenis keramik yang telah diketahui berasal dari Cina masa Song akhir sebelum tahun 1278-1279 dan masa Mongol-Cina Yuan (1278-1369 M.). Selain itu, disini juga ditemukan jenis-jenis keramik dari Asia Tenggara terutama dari Siam-Thai (Ayutthaya) dan Vietnam dari abad ke-13 M. hingga abad ke-14 M. Dan terakhir berbagai jenis dan tipe tembikar dari Asia Selatan, kususnya dari kawasan India Selatan pantai tenggara di Pantai Coromandel. Benda-benda dari India Selatan yang lainnya juga berupa benda-benda dari kaca berwarna jenis satu warna (monokrom), seperti manik-manik monokrom, dan banyak warna (polikrom), seperti mangkuk atau wadah kaca berhias. Benda-benda dari batu terutama jenis batuan granit yang selalu dihubungkan dengan kawasan India Selatan. Temuan benda dari batu granit untuk Kota Cina Medan, Labu Tuo dan Bukit Hasan Barus dihubungkan dengan kehadiran perkumpulan dagang dari Tamil masa Chola, India Selatan. Kota Cina dan Labu Tuo diketahui oleh para arkeolog sebagai kota pelabuhan yang dibangun oleh perkumpulan pedagang Hindu Tamil Chola, India Selatan. Kedua kota pelabuhan ini dibangun sebagai koloni dalam jaringan pelayaran dan perdagangan perkumpulan pedagang tempat pengumpulan barang-barang berharga lalu diangkut melalui pelayar menuju ke Cina atau menuju India dan akhirnya Timur Tengah.
Bukti lain tempat ini terhubung dengan jaringan pelayaran dan perdagangan dunia dari Cina hingga India (Asia Selatan) lalu Timur Tengah yaitu penggunaan mata uang berupa koin perunggu atau besi dari Cina. Koin-koin Cina yang berhasil dikumpulkan umumnya berasal dari masa Song Cina (960-1278). Koin dari Cina sebagai alat tukar dalam perdagangan sudah diketahui oleh banyak peneliti tentang kota dan pelabuhan kuno di Nusantara. Di Sumatera jenis temuan ini hampir ditemukan di setiap situs arkeologi yang dipastikan ikut ambail bagian dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan dunia, sejak dari Palembang (kota Sriwijaya), Jambi (Kota Melayu), Riau dan kepulauannya, Kota Cina Medang hingga Pulau Kampai, Langkat hingga Barus. Di Aceh kawasan Bukit Lamreh menjadi satu referensi baru untuk kota dan pelabuhan dalam jaringan kuno tersebut. Namun demikian koin Cina bukan satu-satunya alat tukar yang digunakan dalam kegiatan perdagangan. Salah satu alat tukan yang paling luas penggunaan di jaman pertengahan dalam perdagangan dunia yaitu kulit kerang yang dikenal sebagai ‘kaori’. Kerang ‘kaori’ penggunaannya melampaui jaringan pelayaran dan perdagangan utama dunia sepertinya mendahului penggunaan koin Cina.
Sebagai kota pantai masyarakatnya juga sangat tergantung pada laut. Kehidupan nelayan juga ditemukan dari benda-benda arkeologi. Salah satu benda yang sangat khas berupa bantul (ankur) dari bahan tembikar (tanah liat dibakar) untuk pemberat jala juga berhasil ditemukan dalam pengamatan dalam jumlah yang masih terbatas. Jenis temuan ini juga memberikan gambaran kepada peneliti bahwa masyarakat yang hidup di tempat ini merupakan masyarakat pelaut. Pemahaman ini sangat penting karena pelaut-pelaut handal dalam kegiatan pelayaran jarak jauh baik secara langsung atau pun tidak berhubungan kelompok masyarakat ini. Pelaut sangat erat dengan masyarakat nelayan, secara naluri dan tradisi kelautan mereka menjadi nahkoda atau nafigator dalam pelayaran. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menguasai astronomi atau ilmu perbintangan sebagai pemandu arah, dan ahli dalam memahami karakter lautan dan ciri-ciri musim angin muson.
Keahlian ini bermanfaat untuk menentukan waktu yang baik untuk melakukan pelayaran dan menghindari bahaya samudera. Lagi pula lautan di perairan Teluk Lamreh-Kroeng Raya sekarang dahulu pastilah menghasilkan biota laut yang sangat melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kotanya.Letak geografi berada pada lokasi strategis yaitu di mulut pintu masuk Selat Malaka yang sejak abad pertama Masehi telah digunakan para pelautuntuk pelayaran jarak jauh dan dalam lintasan pelayaran dan perdagangan jarak jauh.
ACEH HERITAGE:
Situs Warisan Kerajaan, Makam, Masjid, Rumah dan Benteng
EDITOR:
Misri A. Muchsin, (ed.)
REVIEWER:
Drs. Rusdi Sufi
PENULIS:
Drs. Nasruddin AS, M.Hum
Drs. Nabhani AS.
Fadhlur Rahman Armi, Lc. MA
Dedi Satria, S. S
Alfian Afif, M. Pd
Dra. Elly Widarni
Agung, S. S
Irwansyah
Dra. Ruhamah, MA
Syalia. R
Mahlida, S. Hum, MA

Tidak ada komentar:
Write komentar